Ketakutan yang Berarti Bagian 2

02.53 Mimosa Lily 0 Comments

Hari itu perasaanku yang lelah akan rutinitas pekerjaanku yang tanpa henti. Setiap hari terkecuali di Sabtu yang ku dedikasihkan sepenuhnya untuk menuntut ilmu. Rasanya ingin meledak keluar.
Selesai mata kuliah terakhir, aku meminta dia untuk menemaniku menyelesaikan tugas Metodologi Penelitian. 

Jarak antara wajah kami hanya sekitar sepuluh sentimeter. Jarak yang cukup dekat untuk melihat ke dalam matanya. Tapi sorot matanya berbeda, sungguh benar-benar aku merasakan ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Aku penasaran, kami berbicara fokus tentang topik yang kubuat dan dia mampu menanggapinya. Memang arah wajah dan matanya padaku. Tapi sorotnya tidak.

Rasa itu masih mengusikku. Hingga semua rasa penasaranku terjawab saat di tengah heningnya malam.
Sabtu itu masih kami lanjutkan mengerjakan tugas. Sampai saat makan malam di rumahnya, sungguh buat aku terkejut, dia menyiapkan sayur pare kesukaanku. Hal itu tidak kusangka sama sekali. 

Setiap malam  sudah berganti yang mendengarkan ceritaku. Dia, selalu ada saat aku menceritakan perjalananku setiap hari.

Tak pernah lupa ku selalu meminta maaf padanya karena harus mendengarkan ceritaku, namun entah apa yang ada di fikirannya, selalu saja dia mengatakan menyenangkan mendengar ceritaku. Menurutnya ceritaku lucu. Dia suka mendengarkan suaraku yang sebenarnya menurutku suara itu terlalu nyaring. 

Fakta baru yang kudapat adalah kebiasaan dia dalam membuat bumbu masakannya adalah menguleg malam hari. Betapa hebatnya dia dalam mengatur waktunya. Katanya tiap malam dia memang suka berkencan dengan si Bulug. Nama cobek yang asalnya asli dari Surabaya. 

Obrolan ringan kami terasa lebih sering setiap hari. Saat aku buat tulisan ini kami sedang bercanda dengan aplikasi social media What's App.

Tugas kami menghabiskan banyak sekali waktu untuk mencari bahan. Tugas belumlah selesai namun waktu sudah pukul 11.00 pm. Waktunya pulang. Lelah sungguh lelah, aku harus memacu kendaraanku hingga 100 km/h dengan berteman radio favoritku di 102.2 FM Jakarta. Alunan musik yang keluar membantuku untuk terjaga dari gelapnya malam. Sesampainya di rumah langsung saja aku memberi kabar padanya. Obrolan kami belumlah usai masih tersambung dengan line telepon hingga sekitar jam 02.00 am. Dan aku pun harus segera menyudahi perbincangan panjang kami karena ingat akan setumpuk berkas di meja kerjaku. 

Mengingat hari Selasa adalah tanggal merah, maka kami sepakat untuk kembali menyelesaikan tugas. Namun ternyata hari itu cukup menyita segala waktuku. Siang itu jam 11.00 am aku harus sudah sampai di Mall Kasablanka daerah Jakarta Selatan. Namun jam 10.00 am aku masih sibuk dengan merapihkan kamar. Seusai mempersolek diri, segera kupanaskan, si Sexy teman setia perjalananku sekarang. Kupacu kecepatanku hanya sampai 80 km/h saja mengingat jalanan cukup lenggang ke arah sana. 

Sudah kuduga, hal yang tersulit saat kita parkir di mall dan ditanggal merah membuatku cukup kewalahan. Wilayah ladies parking telah penuh. Sampai akhirnya aku mendapatkan sepetak tempat untuk parkir yang aksesnya mudah karena langsung di depan pintu masuk mall. Sayang sudah menjadi adat Indonesia untuk mempunyai jam karet. Ku lihat di handphone mereka terjebak macet. Kuputuskan untuk ke tempat yang menjual aneka pewarna kuku. Aku mendapatkan tiga warna yang indah.

Seusai memanjakan diri dengan berbelanja langsung saja aku menyambangi salah satu resto khas Jepang, Sushi Tei. Tapi sungguh aku tidaklah suka dengan makanan khas itu. Kuputuskan untuk pesan makanan yang tidak ada sangkut paut dengan namanya sushi. 

Saat ini sudah menunjukkan pukul 12.30 pm. Ku haturkan untuk undur diri segera karena harus menyelesaikan tugasku. Namun na'as sungguh. Jalanan ternyata macet. Sungguh di luar dugaanku. Ini hari kan tanggal merah kenapa penuh sesak seperti ini. Terpaksa kuputar arah mencari jalan lain. Tetap saja sepanjang jalan yang kulewati terhambat. Hingga pukul 03.00 pm aku baru sampai rumahnya.

Di sebelah rumahnya ada saung yang asri, di bawahnya ada kolam ikan dan gemericik suara air, depannya ada hamparan rerumputan hijau. Saung dengan aksen pulau Dewata memberikan perasaan sejuk tersendiri saat mengerjakan tugas. Di situ hanya aku seorang yang perempuan namun paling berisik kata salah satu teman kami. Memang benar apa adanya aku memang berisik untuk mencairkan suasana yang cukup tegang karena tugas.

Hingga tiba waktu shalat kami beristirahat sejenak untuk bersujud pada Yang Maha Kuasa.
Seusai shalat Isya, dia menghilang, Tapi kami semua sudah tau pasti dia sedang di dapur menyiapkan makanan untuk kami. Sebenarnya aku tidak suka dengan sayur asem, entahlah karena memang tidak suka dengan rasanya walaupun aku orang Jawa tulen. Mukaku seketika berubah saat dia menyodorkan semangkuk kecil sayur pare kesukaanku. Salut dengannya, entah kapan dia menyiapkannya. Yang aku tau hari itu keluarganya memanglah menyantap sayur asem. Jadi apakah special sayur pare ini untukku?

Hujan yang turun malam itu cukuplah deras, cukup membuat bulu kudukku berdiri karena kedinginan. Langsung saja kubilang padanya bahwa aku ingin meminjam jaketnya untuk sekedar berlindung dari udara malam dan hujan. Dia, aku dan tiga teman kami memutuskan untuk beristirahat mengerjakan tugas dan menonton salah satu film China dan Jepang. Di film itu adegannya sangatlah ekstrem, darah dimana - mana, penyiksaan demi menjadi yang terkuat.Dalam adegan itu tentunya membuatku sering berteriak. Saat adegan dimana saling berkelahi dan ditemani suara petir yang menggelegar aku reflek menutup mataku dan tak terasa pelupuk mataku sudah basah karena menangis ketakutan. Namun sungguh aku merasa bersyukur, karena reflekku sudah membaik. Tadinya saat aku kaget seperti itu akan memeluk siapa pun yang ada di dekatku tanpa mau melepaskan tangannya. Bisa saja menjadi bahaya bukan kalau hal seperti itu terjadi di tempat ramai.

Namun hujan tak kunjung berhenti waktu sudah semakin larut, hari Rabu sudah menunggu kami dengan segala aktifitas. Aku yang mengendarai Sexy tentu tidak khawatir akan basah, namun yang lain aku tak tega melihat mereka yang tidak membawa jas hujan. Hingga pukul 11.05 pm kurasa, sudah mulai berkurang intensitas turunnya dan memutuskan untuk pamit. Aku diantar sampai depan masjid tempatku mengistirahatkan si Sexy kesayanganku. Segera kupanaskan dan kupacu dengan pelan mengingat jalanan masih licin oleh hujan. Hal yang biasa dialami perempuan mengendarai di malam hari adalah adanya pengemudi lain yang ugal ugalan dalam membawa kendaraannya. Tak pernah ku lupa untuk selalu menyalakan radio favoritku saat berkendara.

Sesampainya di tempat parkir, langsung ku segera menuju kamar dan bersih-bersih untuk segera naik ke atas tempat tidur.Kubuka handphone dan langsung kubuka isi pesannya. "Kabari jika sudah sampai.". Seusai membalas pesannya bahwa aku sudah sampai langsung kucoba untuk menutup mataku untuk melanjutkan hari - hari seperti biasa.

Malam ini aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku yang sudah terpendam. Malam ini saat kami berbincang melalui line telepon aku menanyakan sesuatu padanya. Apakah dia mempunyai kelebihan "six sense?" dia tak segera menjawab pertanyaanku, namun aku bisa mengerti jawabannya. dan hal ini kami bicarakan di jam hampir tengah malam. Dia tak mau menjawab karena takut aku akan ketakutan. Tapi kupastikan padanya bahwa aku tidak apa - apa, sehingga dia mau menjawabku. Pembahasan kami mulai mengarah ke masalah kehidupan lain sampai jam 00.12 am kubilang padanya untuk menyudahi perbincangan kami yang hingga tiga jam lebih itu. Kami sama - sama tidak menyadari hal itu. Kami membahas banyak hal selama kami terhubung di telepon.

Sekarang aku tahu kemana arah sorot mata dia yang hilang saat berbicara padaku tempo hari.

0 komentar:

Silakan saran dan koreksinya. Mulutmu adalah harimau mu, tulisanmu dalah pancaran hatimu